Memang yah, menikah itu mengubah orang. Contoh kasus: setelah hampir 5 tahun menikah, saya bukan lagi orang yang sama dengan ketika masih lajang dulu.
Eits, jangan kebawa serius dulu. Saya cuma ingin membahas hal-hal yang ringan seperti kesukaan.
Benar bahwa dalam pernikahan dibutuhkan kompromi, untuk menjaga kewarasan dan keharmonisan rumah tangga. Seperti Ayang, yang berkompromi dengan kesukaan saya pada warna pink, sementara pink adalah warna yang 'gak Ayang banget'. Maka ia tak protes manakala saya membelikannya kaos pink agar bisa matching dengan jilbab pink saya. Saya pun berkompromi dengan kesukaan Ayang pada tempe, meskipun saya adalah #timtahu. Maka saya memasukkan aneka olahan tempe ke menu harian kami.
Termasuk jenis musik yang kami dengar. Well, kami adalah anak 90-an yang dibesarkan dengan alunan lagu boyband macam BSB, westlife, boyzone, dll. Maka gak ada debat dalam lagu boyband kami. Kami seiya sekata ketika karaoke dan sepakat memilih "I want it that way" atau "I lay my love on you". LOL.
Tetapi makin ke sini, pilihan lagu kami makin beragam. Ayang makin nyaman menyanyikan lagu "Haru-haru" Big Bang, hasil saya mempengaruhi Ayang untuk ikut terhanyut dalam Hallyu Wave. Saya pun makin gak tahu malu ikut nyambung di lagu "If you only knew" Shinedown, padahal saya dulu emoh banget sama band-band metal gitu.
Jadi menikah itu berarti perubahan diri karena orang akan berkompromi agar dapat menerima dan hidup bahagia dengan pasangan yang dipilih untuk menemani hidupnya. Karena bayangin aja, kalau saya masih keukeuh gak suka metal, betapa menderitanya saya karaokean sama Ayang di tengah musik yang gedebak-gedebuk gitu.
Saya nulis ini karena weekend kemaren kami berdua maraton nonton Goblin sampai episode 5. Drama korea kedua setelah Pasta yang Ayang betah nontonnya, padahal doi gak hobi ke'Korea'an. Qiqiqiqi.
Dah gitu aja, bye.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar